Jumat, 08 Februari 2013

Sayyidina Ali Kw. Sang Pemimpin Yang Miskin



Pada masa khilafah Imam Ali  as, Kufah merupakan ibu kota pemerintahan Islam, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Pada suatu hari, terjadi pertemuan di luar kota Kufah antara kedua orang laki-laki. Satu di antara mereka adalah Amirul Mukminin Ali as,  dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani.  Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal beliau.  Berlangsunglah percakapan di antara kedua orang itu sambil berjalan, hingga keduanya sampai di persimpangan yang memisahkan jalan mereka menjadi dua;  yang satu menuju kota Kufah dan yang lainnya  mengarah ke suatu perkampungan. 

Sumber Gambar : Google
Imam Ali as. harus menempuh perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju  kampungnya. Namun beliau masih saja mengiringinya, padahal seharusnya beliau mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah. 
Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada Imam Ali, ”Bukankah Anda hendak kembali ke Kufah?”  beliau menjawab: “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi menunaikan hak persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu itu”. 

Laki-laki Nasrani itu merasa  tertarik dan ia bergumam dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang telah mengajarkan akhlak yang mulia kepada manusia”. Ia pun sangat terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum muslimin.

Kekaguman dan keterkejutannya itu menjadi lebih besar lagi tatkala ia tahu, bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, pemimpin negara Islam yang luas.

Pada kondisi yang wajar dan normal, seseorang akan dapat mengendalikan jiwa dan menentukan sikapnya yang sesuai dengan kondisi tersebut.  Akan tetapi, pada kondisi dimana ia terbakar api kemarahan dan permusuhan, seseorang acapkali kehilangan keseimbangn dirinya, hingga pada saat-saat seperti ini sulit sekali baginya untuk menguasai kembali dirinya.

Tidak demikian halnya pada diri Ali Abi Thalib as. Ia  tetap tenang dan tegar pada setiap keadaan dan kondisi.  Sikapnya sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan emosi jiwanya, yakni perbuatannya senantiasa mengiringi ridha  Allah swt. 

Perilaku Ali di dalam rumah tangga, sikapnya dalam peperangan, pergaulan dan perlakuannya di tengah masyarakat   senantiasa tunduk di bawah syariat dan undang-undang Islam.  Beliau telah menjaga jiwanya sedemikian rupa, sehingga ia menjadi teladan yang unggul bagi setiap muslim yang beriman kepada Tuhannya.

Dalam perang Khandaq, ketika kaum musyrikin hendak menyerang kota Madinah, atas perintah Rasulullah saw.  kaum muslimin menggali parit  untuk melindungi kota dari serangan musuh.  Situasi saat itu sangat genting dan membahayakan sekali bagi umat Islam, terlebih lagi ketika Amr bin Abdi Wud dan sebagian penunggang kuda musyrikin Quraisy berhasil  melompati parit tersebut.

Setelah berhasil melewati parit dengan kudanya yang besar dan gagah, Amr bersuara lantang menantang kaum muslimin untuk turun  ke  perang tanding dengannya.  Amr bukanlah orang biasa. Ia seorang jawara Arab yang gagah berani. 

Ketika itu sebagian besar kaum Muslimin merasa ciut dan gentar hatinya untuk berhadapan dengannya, termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman.  Pada kesempatan inilah Imam Ali  bangkit untuk  memenuhi tantangan Amr.  Beliau maju menuju ke arah musuh yang congkak itu, tanpa sedikit pun ada rasa takut dalam hatinya.  

Sementara itu, Rasulullah saw dengan tenang menyaksikan peristiwa itu dan bersabda, “Kini keimanan seutuhnya bangkit melawan kemusyrikan seutuhnya”

Akan tetapi Amr bin Abdi Wud berusaha menghindar dari  bertanding duel dengan Imam  Ali.  Ia berkata, “Wahai Ali! Kembalilah! aku tidak ingin membunuhmu”.  Ali menjawab dengan penuh kemantapan iman: “Tapi aku ingin membunuhmu”. 

Mendengar jawaban itu, Amr naik  pitam dan begitu berang. Segera ia menghunuskan pedangnya dan melayangkannya ke arah Ali. Namun  Ali  dengan cepat dapat menghindar dari serangan pedang tersebut.  Untuk beberapa saat, kedua pemberani itu itu saling menyerang, menangkis dan menghindar. 

Ali tidak memberikan peluang sedikit pun kepada lawannya  untuk menarik nafas. Sampai pada kesempatan yang tepat, Ali dapat melayangkan pedang “Dzul Fiqar"-nya tepat mengenai sasaran yang membuat Amr jatuh tersungkur di atas tanah.  Pemandangan tersebut membuat kawan-kawan Amr ketakutan dan mundur secara teratur. 

Namun, tatkala Ali hendak menghabisi nyawanya, Amr yang congkak itu malah  meludahi wajahnya.  Untuk sesaat saja perlakuan seperti itu menyulut kemarahan Ali. Karena itu pula ia mengurungkan niat untuk membunuh Amr sampai emosi beliau kembali tenang. Ali melakukan ini agar tebasan pedangnya  bukan sebagai pembalasan dendam dan dorongan murka, akan tetapi demi keihlasannya yang  murni kepada Allah swt. dan agama-Nya.

Sungguh, Ali adalah kesatria teladan bagi seluruh prajurit di semua peperangan dan pertempuran.  Sikap dan sepak terjangnya telah mengukir indah sejarah bangsa Arab dan Islam dengan tinta emas.

Setelah Amr bin Abdi Wud  terhempas mati, Ali kembali membawa kemenangan gemilang kepada Rasulullah saw.  Beliau menyambutnya degan penuh hangat, haru dan puas.  Beliau berkata, “Tebasan pedang Ali atas Amr menandingi pahala ibadahnya seluruh tsaqalain”. Yakni, pukulan pedang  Imam Ali as. yang membelah badan Amr menjadi dua itu sama dengan ibadahnya seluruh jin dan manusia.

Pada saat berlangsungnya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr bin Abdi Wud, kaum musyrikin senantiasa  mengamati dan memperhatikan peristiwa itu dengan penuh ketegangan.  Tatkala mereka menyaksikan prajuritnya itu jatuh tersungkur ke tanah, mereka pun mendengar  Ali berteriak keras,  “Allahu Akbar”. Seketika itu pula dada mereka bergetar ketakutan, jiwa mereka tampak melemah dan putus asa untuk melanjutkan peperangan. 

Akhirnya mereka mengakhiri penyerangan dan pengepungan kota Madinah  dan kembali menarik diri dengan segenap kepiluan, kegagalan dan kekecewaan. 
  
 Kekesatriaan dan keprawiraan itu tidaklah berarti apapun jika tidak diiringi dengan sifat semulia belas dan kasih sayang.  Manusia yang berjiwa laksana pahlawan dan pemberani senantiasa menjaga kehormatan dirinya.

Beliau tidak mau membunuh musuhnya yang telah terluka parah atau tercekik  kehausan. Beliau juga enggan mengusir orang yang kalah.  Perikemanusiaannya begitu tinggi  dalam setiap peperangan. Beliau tidak pernah menggunakan lapar atau haus-dahaga sebagai senjatanya dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, walaupun mereka sama sekali tidak menganggap penting akan perkara itu.

Bahkan sebaliknya, musuh-musuh Islam tak segan-segan menggunakan cara yang paling buruk  demi meraih kemenangan.  Dalam perang Siffin  misalnya, pasukan Muawiyah berhasil menguasai sungai Furat, dan ia memerintahkan kepada segenap pasukannya agar mencegah prajurit Imam Ali as. untuk mendekati sungai tersebut.  Namun beliau mengingatkan mereka  bahwa ajaran Islam, kemanusiaan dan kekesatriaan sangat mengecam perlakuan semacam itu. Akan tetapi Muawiyah tidak mempedulikannya, karena yang ia pikirkan hanyalah keuntungan pribadi dan tujuannya yang rakus dan hina. 

Pada saat itu Imam Ali as. berkata kepada para prajuritnya dengan suara lantang, “Hilangkan dahaga pedang-pedang kalian dengan darah, demi menghilangkan rasa haus kalian dengan seteguk air, karena sesungguhnya kematian dalam kehidupan kalian akan tunduk, dan kehidupan dalam kematian kalian akan unggul”

Dengan serentak para prajurit Imam Ali as. menyerang musuh-musuh Islam yang tengah menjaga sungai Furat, dan dengan mudahnya mereka merebut sungai  itu. Kemudian para prajurit Imam Ali as pun segera menyatakan bahwa mereka akan memukul setiap pasukan Muawiyah yang hendak meneguk air dari sungai tersebut. Akan tetapi  Imam Ali as. segera mengeluarkan perintahnya agar mengosongkan tepi sungai dan tidak menggunakan air sebagai senjata, karena yang demikian itu bertentangan dengan akhlak Islam dalam peperangan.

Masih pada masa-masa menjabat sebagai Amiril Mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin, Imam Ali as. menghadapi berbagai tantangan, bencana dan kesusahan hidup dunia.  Walaupun demikian, beliau sendiri  terjun langsung menangani  kemiskinan umat Islam dan rakyatnya. 

Imam Ali as.  sama sekali tidak memiliki  dendam  pribadi kepada siapa pun, sehingga orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan menyimpan kedengkian serta kebencian yang mendalam sekalipun tetap dapat menerima bagian dari Baitul Mal (kekayaan negara).  Bahkan beliau tidak membeda-bedakan dalam membagikan harta Baitul Mal itu di antara para sahabat, kerabat, famili dan orang-orang yang dekat dengan beliau dengan yang rakyat lainnya.

Pada suatu hari, seorang wanita bernama Saudah datang menjumpai Amiril Mukminin Ali as. untuk mengadukan perlakuan buruk  seorang pegawai pajak terhadap dirinya.  Ketika itu beliau sedang melaksanakan salat. Tatkala bayangan seorang wanita itu yang datang menghampirinya, beliau mempercepat salatnya. 

Seusai salat, beliau menoleh kepada wanita itu dan berkata kepadanya dengan penuh santun dan lembut, “Apa yang bisa saya lakukan untukmu?”.  Sambil menangis Saudah menjawab, “Aku ingin mengadukan  perlakuan buruk pegawai saat mengambil pajak dariku”.  Mendengar hal itu Imam Ali as. terkejut dan menangis, kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Ya  Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyuruh mereka untuk berbuat aniaya terhadap hamba-Mu”.

Setelah itu beliau megambil sepotong kulit dan menuliskan  sebuah perintah untuk memecat pegawai buruk tersebut dari pekerjaannya. Surat tersebut beliau serahkan kepada Saudah.  Dengan gembira wanita itu menerimanya untuk selanjutnya ia sampaikan kepada yang bersangkutan.

Pada suatu hari Amiril Mukminin Ali as. menerima laporan dari kota Basrah bahwa gubernur kota itu yang bernama Utsman bin Hanif  telah  memenuhi undangan seorang kaya raya  dan hadir dalam pesta pernikahannya. Mendengar hal tersebut, beliau segera mengirimkan sehelai surat untuknya. 

Dalam surat itu Imam Ali as. menegur dan memberikan peringatan kepada gubernurnya tentang sesuatu di balik undangan tersebut.  Karena sesungguhnya orang-orang kaya apabila mengadakan pesta perkawinan bukanlah sekedar menyajikan jamuan makanan semata.  Akan tetapi acara semacam itu mereka jadikan sebagai alat pelicin dan suap untuk penguasa kota tersebut, sehingga mereka dapat meraih tujuan mereka.  Di dalam surat itu pula Imam as menyampaikan berbagai saran dan  nasihatnya yang perlu direnungkan dan dicamkan baik-baik. 

Dalam surat tersebut Imam Ali as. mengatakan, “Wahai Ibnu Hanif, telah sampai laporan kepadaku bahwa ada orang kaya raya yang mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu dengan segera dan senang hati engkau menyambut undangan tersebut dengan jamuan makanan yang berwarna warni.  Sungguh aku tidak mengira bahwa engkau  sudi menghadiri makanan seseorang yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya sedang orang-orang miskin tidak mereka hiraukan.

"Ketahuilah sesungguhnya setiap rakyat  mempunyai pemimpin yang harus ditaati dan diikuti petujuk cahaya ilmunya.  Ketahuilah! Sesungguhnya pemimpinmu mencukupkan tubuhnya hanya dengan dua helai jubah yang kasar,  dan makanannya hanya dengan dua potong roti kering”.

Salah seorang sahabat Imam Ali as. yang bernama Ady bin Hatim At-Thaie pernah ditanya seseorang tentang pemerintahan beliau, ia berkata, “Aku saksikan orang yang kuat menjadi lemah di sisinya karena ia menuntut tanggung jawab darinya, dan orang yang lemah menjadi kuat disisinya karena hak-haknya terpenuhi”.

Tentang keadaan hidupnya, Beliau sendiri pernah menggambarkan, “Bagaimana mungkin aku  menjadi seorang pemimpin jika aku sendiri tidak merasakan kesusahan dan kesengsaraan mereka”.   

Dalam pandangan Imam Ali, kekuasaan dan jabatan itu tidaklah berharga. Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertanya kepada Ibnu Abbas sambil menjahit sandalnya,  “Menurutmu berapa harga sandalku ini?”.  Setelah memandang dan mengamati beberapa saat, Ibnu Abbas berkata,  “Sangat murah, bahkan tidak ada harganya”.  Kemudian Imam Ali as berkata, “Sesungguhnya sandal ini lebih berharga bagiku dibandingkan sebuah kekuasaan dan jabatan sampai aku dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan kebatilan”.

Sejak hari pertama menjadi khalifah kaum muslimin, Imam Ali as. menegaskan di hadapan khalayak bahwa pemerintahannya akan berjalan di atas keadilan dan persamaan hak di antara rakyat, bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang Ajam (selain orang Arab) kecuali  dengan taqwa. Beliau pun tidak membedakan antara tuan dengan budaknya. 

Sebagian orang mengecam jalan pemetintahan beliau tersebut. mereka memberikan usulan agar beliau kembali kepada cara-cara pemerintahan lama yang telah dijalankan oleh para khalifah sebelumnya.  Namun, Imam Ali as menolak dengan jawaban keras, “Apakah kalian memintaku untuk meraih kemenangan dengan jalan kezaliman?”.  Beliau melanjutkan, “Seandainya harta negara itu adalah milikku sendiri, maka akan aku bagi rata kepada seluruh rakyat, hanya saja harta itu  adalah milik Allah”.

Pada suatu hari kakak beliau yang bernama Aqil datang ke rumahnya.  Imam Ali as. menyambut gembira kedatangan sang kakak.  Ketika tiba waktu makan malam, ternyata Aqil tidak melihat apa-apa di atas sufrah  (alas makanan) selain roti dan garam. Ia terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Hanya inikah yang aku lihat?”.  Beliau  menjawab, “Bukankah ini adalah nikmat Allah yang patut disyukuri?”

Kedatangan Aqil sebenarnya untuk meminta bantuan kepada Imam Ali as. demi menutupi hutangnya.  Imam  berkata, “Tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku”.  Aqil mulai merasa kesal dan berkata, “Bukankah Baitul Mal ada di tanganmu?  Kenapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?”.  Imam as. membalas, “Kalau kau mau, ambillah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama-sama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat peadagang-pedagang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya”.  Aqil menolak dan berkata, “Memangnya aku datang untuk merampok!”.  Imam as menjawab, “Mencuri harta kekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik daripada engkau mencuri harta milik semua kaum muslimin”.

Beliau makan makanan kaum fakir miskin dan hidup dengan penuh kesederhanaan.   Ketika orang-orang berkata kepada beliau,  “Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang  untuk menggalang pendukung.  Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?”.  Imam as menjawab, “Apakah kalian ini hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”.

 Pada suatu hari di musim panas yang sangat menyengat, seorang wanita diusir dari rumah oleh suaminya.  Wanita itu meminta tolong kepada Imam Ali as.  Dengan segera beliau keluar menuju rumah suami wanita yang malang tersebut.  Setibanya di sana, beliau mengetuk pintunya.  Seorang pemuda yang tidak mengenal beliau membuka pintu tersebut. 

Ketika Imam mengecam perlakuan buruknya itu, pemuda tersebut berteriak dengan suara keras dan penuh kemarahan, ia mengancam akan menyiksa isterinya itu lebih jahat lagi lantaran ia mengadukan perakuannya kepada Imam.  

Pada saat itu, beberapa orang yang mengenal Imam melewati jalan di hadapan rumah tersebut. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Ali as, “Assalamualaikum Wahai Amirul Mukminin!”.  Mendengar ucapan salam mereka itu, pemuda tersebut baru sadar bahwa orang yang kini berada di hadapannya adalah Khalifah kaum muslimin. 

Tak pelak lagi, ia pun gemetar ketakutan, lalu menundukkan diri dan segera mencium tangan Imam seraya memohon maaf dalam-dalam.  Pemuda itu berjanji kepada Imam untuk tidak mengulang lagi perlakuan buruknya tersebut.  Imam menasihati kedua suami-isteri itu dan memberikan bimbingan agar kehidupan rumah tangga mereka terbina tentram dan hidup dengan penuh kedamaian.

Pada tahun 10 H, Rasulullah  saw. melaksanakan ibadah haji Wada’.  Haji Wada’ adalah haji terakhir sekaligus haji perpisahan bagi beliau.  Beliau merasa sudah semakin dekat perjumpaannya dengan Allah swt.   Sejak awal masa risalah, sering kali beliau menyampaikan perkara tentang  seseorang yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai khalifahnya untuk kaum muslimin. 

Nabi saw. senantiasa berfikir bagaimana caranya membuka jalan untuk kesuksesan khalifahnya, Ali bin Abi Thalib as.  Mengenai kekhilafahannya beliau memberikan berbagai isyarat dan penegasan  yang didengar langsung oleh para sahabat, “Ali senantiasa bersama kebenaran, dan kebenaran senantiasa bersama Ali”.  Atau sabda beliau lainnya, “Aku adalah kota ilmu sedang Ali adalah pintunya”.

Jabir bin Abdillah Al-Ansari ra. pernah berkata, “Kami tidak dapat mengenali orang-orang munafik kecuali dengan mengetahui kedengkian mereka terhadap Ali as”.

Lain dari itu, para sahabat pun pernah mendengar wasiat Nabi saw. yang menyatakan, “Ayyuhannas, aku  berwasiat kepada kalian agar mencintai saudaraku, putra pamanku Ali bin Abi Thalib, karena sesungguhnya tidak ada yang mencintainya kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang mendengkinya kecuali orang munafik”.

Sampai pada tanggal 18 bulan Dzul Hijjah dari tahun itu, Rasulullah saw. kembali dari melaksanakan haji Wada' yang diikuti oleh lebih dari seratus ribu kaum muslimin.  Saat itulah Jibril as. turun membawa pesan langit untuk beliau. 

Rasulullah saw. menghentikan perjalanannya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum.  Beliau memerintahkan semua kaum muslimin agar menghentikan perjalanan mereka di tempat yang mulia dan bersejarah itu.  Di tengah padang pasir dan di tengah panasnya terik matahari yang membakar itu, beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan kaum muslimin dan seluruh para sahabatnya.  Dalam khutbahnya itu beliau bersabda, “Ayyuhannas, tak lama  lagi aku akan dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan memenuhi panggilan-Nya itu.  Sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, demikian pula kalian, maka apakah yang akan kalian katakan?”

Kaum mslimin dengan serentak menjawab, “Sesungguhnya kami bersaksi  bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dengan baik, engkau telah berjihad dan memberikan nasihat, semoga Allah akan membalasmu dengan kebaikan”.

Nabi saw melanjutkan, “Bukankah kalian telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sesungguhnya surga adalah nyata, neraka adalah nyata, kematian adalah nyata, Kebangkitan adalah nyata, Hari Akhirat itu tidak diragukan lagi  kejadiannya, dan sesungguhnya Allah swt. akan  membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur”

Kaum muslimin menjawab lagi dengan serempak, “Benar, kami bersaksi akan hal itu semua”
Rasulullah saw. menengadah ke hadirat Allah swt, “Ya Allah! Saksikanlah kesaksian mereka itu!”.
Lalau beliau menyambung khutbahnya, “Wahai sekalian manusia!  sesungguhnya Allah swt. adalah pembimbingku, sedang aku adalah pemimpin kaum mukminin, dan sesungguhnya aku lebih utama daripada diri-diri kalian.  Maka, barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya.   Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya. 
"Dan sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka (tsaqalain) yang sangat berharga yaitu,  'Kitabullah'  (Al-Qur’an) dan  'Ithrah' (Ahlul Bait)”.

Pada siang itu, puluhan ribu kaum muslimin melihat dan menyaksikan Nabi saw.  mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as. sebagai cara pelantikannya menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin setelah ketiadaan beliau. Para sahabat   yang kemudian diikuti oleh  kaum muslimin lainnya menyatakan baiat (ikrar setia) kepada Imam Ali as. mengucapkan sambutan selamat kepadanya, “Salam sejahtera atasmu wahai pemimpin kaum mukminin!”.


Sejak hari pertama khilafah dan kepemimpinannya, Imam  Ali as menegaskan di hadapan kaum muslimin asas pemerintahannya, yaitu menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah swt. dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan. 

Masyarakat muslim telah terbiasa menghadapi kezaliman dan ketidakadilan  pada masa-masa  sebelumnya. mereka telah menyaksikan perlakuan khalifah yang tidak lagi berlandasakan pada hukum-hukum Allah; mereka  mengistimewakan sebagian dan menelantarkan sebagian lainnya, mencurahkan harta kekayaan negara hanya kepada keluarga Umayyah dan orang-orang yang setia kepada kekuasaannya saja.  Sementara sebagian besar kaum Muslimin  hidup dalam keadan miskin dan penuh dengan penderitaan.

Ketika Ali bin Abi Thalib as menjabat sebagai khalifah dan beliau berjanji akan menegakkan keadilan di tengah kaum muslimin, terutama bagi yang keadaan ekonominya lemah, mereka menyambutnya dengan penuh harapan.  Lain halnya dengan orang-orang kaya yang biasa hidup mewah  dan suka berfoya-foya.  Sebagian mereka sangat khawatir kekayaan, kemewahan dan kepentingan mereka terusik dengan keadilan Ali as. 

Karena itu, mereka segera bergerak cepat menyiapkan langkah-langkah dalam rangka menghadapi pemerintahan Ali as.  berkobarlah  api permusuhan dan peperangan di dalam negara dan di antara sesama kaum Muslimin.  Sejarah mencatat bahwa perang Jamal adalah peperangan pertama di antara mereka. Setelah itu terjadi perang Siffin, lalu perang Nahrawan.

Setelah kaum Khawarij mengalami kekalahan besar dalam perang Nahrawan,  tiga orang durjana berkumpul untuk mengambil mufakat, yaitu membunuh beberapa orang yang mereka anggap sebagai musuh dan penghalang mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka. 

Ketiga orang itu adalah Ibnu Muljam, Hajjaj bin Abdillah, dan Umar bin Bakar At-Tamimi.  Mereka bertiga telah sepakat dan bertekad untuk membunuh Muawiyah, Amr bin Ash dan Imam Ali as.  ibnu Muljam sendiri telah bersumpah untuk melakukan pembunuhan atas Imam Ali as. Maka pada 19 Ramadhan 40 H, Ibnu Muljam melakukan rencana jahatnya. 

Seperti biasa, subuh itu Imam Ali as memimpin salat subuh berjamaah bersama kaum Mukminin di Masjid Kufah, Irak. Ibnu Muljam berhasil menyusup diam-diam sampai mendekati beliau yang tenagh bersujud. Namun, tatkala beliau bangkit dari sujudnya, Ibnu Muljam segera menebaskan pedangnya yang beracun itu, tepat di bagian kepala beliau As.  Darah suci  beliau berhamburan memerahi mihrab dan pakaian beliau.  Pemimpin yang adil itu meratap lemah, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah” (Demi Tuhan ka’bah! Sungguh aku telah menang).

Pada saat itu, terdengar oleh masyarakat  suara dari langit berucap: “Demi Allah, sungguh tonggak petunjuk telah roboh, orang yang paling takwa telah terbunuh,  ....orang yang paling celaka telah membunuhnya". 
Ibnu Muljam berusaha melarikan diri dari kota Kufah, akan tetapi ia berhasil dibekuk.  Ketika ia dibawa ke hadapan Imam Ali as, beliau berkata kepadanya:
“Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?”.
Ia menjawab : “Ya, betul”. 

Sebagian orang berusaha untuk melakukan pembalasan dendam terhadap Ibnu Muljam, akan tetapi Imam Ali mencegah mereka.  Bahkan beliau berpesan kepada putranya Hasan as. agar senantiasa berbuat baik kepadanya selama beliau masih hidup.

Pada 21 Ramadhan, Imam Ali as. menjemput kesyahidannya. Tak lama setelah itu, Imam Hasan as. melaksanakan hukum Qisas Islam terhadap pembunuh ayahnya itu. 

Demikianlah Imam Ali as, sang pemimpin yang adil itu meninggalkan dunia pada usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saw.  Jenazah beliau dimakamkan di luar kota Kufah secara rahasia di kegelapan malam. []

Karya:  Sayid Mahdi Ayatullahi  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anda sopan kami pun bersambut