Jumat, 08 Februari 2013

Fatimah Zahra




Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. "Ya binta Rasulillah"; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayyidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan  “Ya Amirul Mu’minin”, wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali as. dan Sayyidah Fatimah as.
Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya 


Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as. melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama  “Hasan”. Rasul saw. sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau  pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah  Allah swt. berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw. dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka  sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah saw. keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di  haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw. lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan: “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah as.  melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw. teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as. itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah swt. menghendaki keturunan Rasul saw. berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Sekembalinya dari Haji Wada, Rasulullah saw.  jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as. bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah  berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul saw. membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Fatimah  pun   segera membacakan Al-Qur'an dengan suara yang khusyuk.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur'an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw. meninggalkan dunia  dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.
Kepergian Rasul saw. merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as. mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra as. berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.
Imam Ali as. melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fatimah as. secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam  bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw.  akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.
Atas dasar itu, Ali as. meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.
Akhirnya, Sayyidah Fatimah as. pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah swt".
Sayyidah Fatimah as. diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar  dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

 Sumber : Sayid Mahdi Ayatullahi

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anda sopan kami pun bersambut