Rabu, 13 Februari 2013

Melahirkan Generasi Inisiator Dalam Bingkai Kemuliaan Islam



Hal yang mungkin lebih baik untuk dijadikan perhatian semua orang khususnya kader AIPI Indonesia adalah bagaimana mengembalikan arah gerak AIPI Indonesia sesuai dengan Landasan perjuangannya yaitu mampu menjadi inisiator terbentuknya sebuah masyarakat yang penuh dengan keadilan dan persaudaraan dalam bingkai kemuliaan Islam.
Upaya membangun masyarakat yang ideal seperti itu haruslah terlebih dahulu dimulai dari mempersiapkan individu-individu yang berkarakter kuat dengan kapasistas ilmu yang mumpuni. Melalui individu-individu inilah harapan masyarakat bisa diarahkan dan diberikan pencerahan dalam memandang esensi diri dalam sebuah realitas kehidupan yang pada akhirnya membawa manusia kepada fitrahnya sebagai seorang hamba yang taat dan paham peran dan fungsi di dalam masyarakat.
AIPI Indonesia dalam posisinya sebagai organisasi kader dan perjuangan, harus terus membina segenap manusia agar memastikan tugas keumatan itu suatu saat bisa diinisiasi oleh kader-kader AIPI Indonesia. Namun pertanyaan yang kemudian timbul adalah sejauh mana seorang kader mampu memahami hakikat kader dan perjuangan itu? Sudahkah kader-kader AIPI Indonesia menerapkannya? Kedua pertanyaan ini sebenarnya tidaklah sulit untuk dijawab seandainya setiap kader membaca dan mengkaji isi pedomannya terutama Khittah Perjuangan.
Karena di dalam langkah Perjuangan AIPI Indonesia telah dijabarkan pengertian hakekat kader dan perjuangan secara jelas. Kader AIPI Indonesia dimaknai sebagai sebuah upaya peningkatan kualitas anggota-anggotanya dengan memberikan pemahaman ajaran dan nilai kebenaran Islam secarah penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang. perkaderan tersebut meliputi pembinaan sikap serta penambahan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan kader AIPI Indonesia tampil sebagai sosok Pemimpin Cerdas  yang Allah utus di muka bumi. Sedangkan hakekat perjuangan AIPI Indonesia adalah kesungguhan melaksanakan ajaran Islam pada kehidupan masyarakat secara bertahap dan konsisten di seluruh aspek dan entitasnya.
Sehingga, jika merujuk pada penjabaran langkah Perjuangan di atas maka perkaderan bukanlah hanya kegiatan Madrasah Ilmiah 1, MI 2, MI 3 saja, atau kegiatan-kegiatan yang hanya bersifat formal belaka. Tetapi lebih  pada persoalan bagaimana mendidik. Baik mendidik diri sendiri maupun mendidik sesama anggota.
Menjalankan perkaderan sama persis seperti menjalankan sistem pendidikan, ada sistem, ada pihak yang berfungsi sebagai orang yang mendidik/guru dan ada pihak yang sebagai orang yang dididik/murid. Dalam posisi inilah sebenarnya kader-kader memiliki beban dan tanggung jawab yang sangat luar biasa untuk senantiasa mengawal sistem tersebut agar dapat berjalan dengan baik.
Imam Ghazali dalam kitabnya ‘Ihya Ulumuddin’ menggambarkan sosok seorang guru itu harus memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada muridnya serta memperlakukan mereka laksana anaknya sendiri. Penjabaran hakikat perkaderan di dalam langkah Perjuangan AIPI Indonesia sama persis dengan yang disampaikan oleh Imam Ghazali tersebut.
Karena, hanya dengan sistem dan pemahaman secara penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang sajalah setiap kader  mampu menangkap apa sebenarnya nilai yang diperjuangkan AIPI Indonesia. Semua itu tidak akan bisa dilakukan dengan sikap keras. Kerena menurut Ibnu Khaldun sikap keras dalam pendidikan dapat berakibat buruk bagi murid. Barangsiapa yang tumbuh dengan kondisi pemaksaan dan penindasan maka hal itu dapat membuatnya menjadi orang keras dan berkepribadian sempit, kurang giat dan tidak bisa tumbuh dengan baik.  Hal ini juga akan membuatnya tidak jujur dengan memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka karena khawatir mendapatkan penganiayaan.
Tetapi, sungguh sangat ironis peran pengkaderan yang  cukup vital itu terkadang tidak mampu berfungsi dengan optimal, karena tidak ada yang mau menjadi sosok panutan. Madrasah Ilmiah 2 ini menuntut sebuah pilihan sadar dan ikhlas dalam membangun sebuah peradaban baru.
Akhirnya, melalui momentum ini, kita harus mulai merefleksikan apa yang sedang terjadi dengan gerakan yang sama-sama kita cintai ini, sehingga kedepan kita mampu bersama-sama kembali membawa kemuliaan Islam hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa harus takut untuk dicap sebagai fundamentalis, sehingga lahirlah masyarakat yang mumpuni, yang berkualitas dan diridhoi Allah. 

http://www.4shared.com/rar/H5EfjHyG/Proposal_AIPI_Indonesia_2013.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anda sopan kami pun bersambut